Vitamin D3 dan Kesuburan

Siapa sangka ternyata vitamin D menjadi salah satu penentu keberhasilan program hamil.
Vitamin D (vitD) yang dikenal sebagai “vitamin sinar matahari” diketahui luas sebagai vitamin yang berperan dalam menjaga kesehatan tulang. Namun ternyata, vitD juga berperan penting dalam proses terjadinya kehamilan.
Sebuah studi yang dipublikasi di NIH (National Library of Medicine) telah meneliti peran vitD dalam pengobatan kesuburan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa vitD ternyata memainkan peran yang cukup penting dalam sindrom ovarium polikistik (PCOS), endometriosis, myoma, infertilitas pria, dan fertilisasi in vitro (IVF). Berikut penjelasannya
- PCOS. Pada sindrom yang mengenai wanita ini, tingginya kadar insulin menyebabkan ovarium cenderung memproduksi hormon pria seperti testosteron. Akibatnya sulit terjadi ovulasi. Pemberian suplemen vitD pada pasien PCOS dapat memperbaiki kadar insulin darah dan meningkatkan kesuburan
- Endometriosis. Kadar VitD dalam darah yang tinggi diduga berhubungan dengan rendahnya insiden endometriosis.
- Myoma. Merupakan pertumbuhan jaringan (tumor jinak) di rahim. Defisiensi vitD ditemukan lebih banyak pada pasien yang menderita myoma.
- Infertilitas pria. Pada pria, kadar vitD darah yang rendah (<20 ng/ml) dan terlampau tinggi (>50 ng/ml) berefek buruk pada jumlah cairan, pergerakan, serta morfologi sperma.
- Fertilisasi in vitro (IVF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kadar vitD darah yang cukup dengan keberhasilan implantasi embrio.
Kesimpulan dari hasil penelitian tersebut menunjukkan perlunya menjaga kadar vitD dalam darah sebagai salah satu faktor yang dapat mendukung program kehamilan.
Defisiensi Vitamin D di Indonesia
Apakah kadar vitD kita sudah cukup? VitD merupakan vitamin yang dapat diproduksi oleh tubuh kita sendiri dengan bantuan sinar matahari (D3 atau kolekalsiferol). Lalu sebanyak 10% sisanya diperoleh dari makanan (dalam bentuk D2 atau ergokalsiferol dan D3 bila bersumber dari hewani).
Ditilik dari lokasi geografis, Indonesia merupakan salah satu negara dengan sinar matahari berlimpah. Namun ternyata dari hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita Indonesia dengan rentang usia produktif (18-40 tahun) menderita defisiensi vitD sebanyak 63 persen.
Faktor Risiko Defisiensi Vitamin D
- Aktivitas dalam ruang. Karena pembentukannya dibantu oleh sinar matahari, adanya pergeseran gaya hidup masyarakat dimana kegiatan dalam ruang menjadi lebih banyak akan mempengaruhi penyerapan sinar matahari melalui kulit. Terlebih dengan adanya pandemi covid 19, maka jumlah paparan terhadap sinar matahari akan semakin rendah
- Obesitas. Karena vitamin ini termasuk vitamin larut lemak, maka tingginya kadar lemak simpanan akan menyerap vitD, dan jumlah vitD dalam darah akan berkurang.
- Usia Lanjut. Proses metabolisme pada tubuh lansia berbeda dengan mereka yang masih muda. Selain itu, terbatasnya aktivitas luar ruangan serta menurunnya kemampuan memproduksi vitD menyebabkan kebutuhan vitD pada usia lanjut (lebih dari 70 tahun) lebih tinggi dibandingkan kelompok usia yang lebih muda. Lansia membutuhkan asupan vitD sebanyak lebih dari 800 IU/hari.
Bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan vitamin D?
Sumber Makanan
Beberapa jenis makanan menjadi sumber vitD yang baik. Makanan yang berasal dari tumbuhan seperti jamur yang terkena sinar matahari (contoh: Shiitake), menyediakan vitamin D2. Sementara makanan dari hewani seperti salmon, tuna, kuning telur, minyak ikan Cod, sarden dan makarel, hati sapi, serta produk susu yang difortifikasi membantu memenuhi kebutuhan vitD3 tubuh. Vitamin D3 lebih baik dalam meningkatkan kadar vitD dalam darah ketimbang vitamin D2.

Sinar Matahari yang Cukup
Ketika sinar matahari mengenai kulit, kulit akan mulai membuat vitamin D dari kolesterol. Sinar matahari yang diperlukan adalah sinar UVB. Jenis sinar ini tidak dapat menembus jendela, sehingga diperlukan paparan langsung dari sinar matahari untuk mendapatkan manfaatnya.
Cara Untuk Mendapatkan Sinar Matahari Yang Cukup
Dilansir dari sebuah artikel, cara berjemur agar mendapatkan sinar matahari yang cukup adalah sebagai berikut:
- Berjemur di luar ruangan (Sinar UV B yang mengaktifkan vitamin D di kulit tidak dapat menembus kaca)
- Paparan yang cukup pada bagian tangan, lengan, atau kaki yang tidak tertutupi pakaian
- Berjemur dilakukan dibawah pukul 10.00
- Durasi bertahap, dimulai dair 5 menit hingga 15 menit (kulit yang lebih gelap mungkin membutuhkan paparan yang lebih lama)
- Cukup dilakukan 2 – 3 kali dalam seminggu
Suplementasi
Apabila sumber makanan dan paparan sinar matahari sulit diperoleh, anda dapat memenuhi kebutuhan vitD harian dengan mengkonsumsi suplemen D3. Pastikan anda mengkonsumsinya dengan jumlah yang cukup, bersamaan atau setelah makan untuk menjamin penyerapannya. Anda sebaiknya juga memeriksakan kadar vitD 25-OH, sehingga bisa meminum dosis yang sesuai kebutuhan.
Dari penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa dibutuhkan suplementasi vitamin D terutama pada wanita dan pria yang sedang menjalankan program kehamilan.
Responses